Selasa, 08 November 2011

Minuman isotonik berbahaya?


Aktivitas yang padat membuat seseorang terkadang lupa makan ataupun minum. Padahal saat melakukan aktivitas yang melelahkan tubuh membutuhkan cairan yang lebih dari biasanya. Saat cairan dalam tubuh sudah berkurang maka terjadilah dehidrasi. Kata dehidrasi mungkin sudah tidak asing lagi, namun sebagian orang hanya sekedar tahu dan masih saja membiarkan tubuh kekurangan cairan.
Dehidrasi dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik), atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama (dehidrasi isotonik), atau hilangnya natrium yang lebih banyak dari pada air (dehidrasi hipotonik). Dehidrasi hipertonik ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/liter) dan peningkatan osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter). Dehidrasi isotonik ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135-145 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (270-285 mosmol/liter). Dehidrasi hipotonik ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mosmol/liter.
Tanda-tanda seseorang kekurangan cairan tubuh antara lain, bibir, mulut dan kerongkongannya terasa kering serta haus, pegal-pegal dan air seni berwarna kuning pekat ketika buang air kecil. penelitian yang dihelat tiga perguruan tinggi ternama di Indonesia (IPB, Unair, dan Unhas) melaporkan, dehidrasi dapat menyebabkan beragam masalah dalam tubuh. Misalnya, kekurangan 2 persen air menyebabkan tubuh manusia mengalami gangguan dalam fungsi otak, seperti konsentrasi dan kemampuan berpikir. Kehilangan 4-6 persen air menyebabkan tubuh mengalami sakit kepala, letih, lemah. Apabila kekurangan air mencapai 12 persen, maka fungsi pergerakan atau otot tubuh pun dapat terganggu. Kekurangan 15-25 persen cairan tubuh berakibat fatal bagi tubuh manusia. Di samping itu, kekurangan air dapat menimbulkan gangguan pada ginjal, seperti timbulnya batu ginjal dan infeksi saluran kemih. Sehingga setiap orang dianjurkan minum air dalam jumlah cukup, sesuai salah satu pesan Pedoman Gizi Berimbang dari Departemen Kesehatan.
Untuk mencegah dehidrasi kini banyak ditawarkan minuman isotonik yang memiliki kadar ion lebih banyak daripada air putih. Komposisi isotonik 98 persen berupa air, 2 persen lainnya berupa ion Natrium Klorida, Kalium Fosfat, Magnesium Sitrat, dan Kalsium Laktat. Fungsi ion-ion ini dapat mengganti elektrolit tubuh yang hilang.
 Namun beberapa waktu lalu, Komite Masyarakat Antibahan Pengawet (Kombet) mengungkap hasil risetnya terhadap 28 minuman dalam kemasan. Yang paling banyak diteliti adalah minuman isotonik. Menurut Ketua Kombet, Nova Kurniawan, sebagian besar minuman jenis itu mengandung bahan pengawet. Sampel diambil secara acak untuk selanjutnya diuji secara laboratorium. Penelitian yang disupervisi Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Jakarta ini dilakukan di 3 laboratorium, yakni Sucofindo Jakarta, M-Brio Bogor, dan Bio-Formaka Bogor. Pengawet merupakan bahan yang ditambahkan untuk mencegah atau menghambat terjadinya kerusakan atau pembusukan minuman atau makanan. Dengan penambahan pengawet tersebut, produk minuman diharapkan dapat terpelihara kesegarannya. Akan tetapi penggunaannya tentu harus mengikuti takaran yang dibenarkan. Lantaran itu masyarakat perlu memahami label yang tertera pada kemasan. Sayangnya, pada label kemasan produk banyak tidak dicantumkan atau dijelaskan tentang komposisi bahan pengawet yang digunakan.
Ada 3 kelompok produk yang beredar di pasaran. Pertama, produk yang tidak menggunakan bahan pengawet. Kedua, produk yang menggunakan bahan pengawet dan mencantumkannya pada label. Ketiga, menggunakan bahan pengawet tapi tak mencantumkan pada kemasan.  Meskipun begitu, jika mengonsumsinya hanya sekali-sekali, maka tak perlu kelewat khawatir. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun telah melakukan penelitian serupa dan hasilnya menunjukkan bahan pengawet yang digunakan masih di bawah ambang batas ketentuan Departemen Kesehatan. Menurut Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan Badan POM, Sukiman Said Umar, berdasarkan nilai Acceptable Daily In-take (ADI), natrium benzoat memiliki ambang batas 600 miligram per liter. Hal ini memang berbeda dari hasil riset Kombet yang menyebutkan angka 117-433 miligram per liter.  Adapun ambang batas kalium sorbat yaitu 25 miligram per kilogram berat badan. Jadi, bila berat badan anak 20 kg, dan ia minum 500 mg kalium sorbat melalui dua botol minuman isotonik, berdasarkan kajian risiko yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) hal itu dianggap tidak membahayakan.
Walaupun faktanya minuman isotonik tidak berbahaya bila digunakan dengan kadar yang sesuai, namun lebih baik bila tidak menggantungkan diri pada minuman isotonik setiap kekurangan cairan. Konsumsi air putih lebih menyehatkan ditambah konsumsi sayuran dan buah. Selain dapat membantu mengganti cairan tubuh, Buah dan sayur dapat berperan sebagai antioksidan alami.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar