Minggu, 13 November 2011

Mengenal penyimpangan kebiasaan makan


Eating disorders adalah suatu gangguan mental yang dapat mem­binasakan dan mempengaruhi lebih dari tujuh juta wanita setiap tahunnya, temtama di negara-negara barat seperti di Amerika Serikat dan - Eropa. Walaupun eating disorders berhubungan dengan makanan, pola makan, dan berat badan, gangguan tersebut bukanlah mengenai makanan, tetapi mengenai perasaan dan ekspresi diri.
Eating disorders dapat dialami oleh semua orang, tidak mengenal status sosial dan ekonominya. Menurut lembaga National Association qf Neroosu and Associated Disorders, 90% penderita eating disorders adalah wanita. Gangguan tersebut biasanya diderita oleh remaja-remaja putri yang kembar atau memiliki adik kakak perempuan dan berumur antara 12 sampai 25 tahun. Umur 17 adalah umur rata-rata dimana eating disorder mulai berkembang. Menurut survey, antara 5% sampai 10% dari remaja­-remaja menderita eating disorders. Gangguan tersebut juga diderita oleh wanita-wanita berumur dan pria tetapi dalam jumlah yang sedikit.
Pada umumnya, penderita eating disorders adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, perasaan tidak berdaya, dan perasaan tidak sebanding dengan orang lain. Mereka menggunakan ma­kanan dan diet sebagai cara untuk mengatasi masalah-masalah dalam hi­dup mereka. Banyak dari mereka berpikir bahwa makanan adalah sumber kenyamanan atau penghilang stress sementara penurunan berat badan dianggap sebagai cara agar diterima oleh teman-teanan dan keluarga.
Kejadian-kejadian maupun keadaan tertentu dalam kehidupan se­seorang dapat juga menjadi faktor pendukung timbulnya gangguan ter­sebut. Kejadian-kejadian ini dapat berupa penghinaan terhadap bentuk tubuh, pemerkosaan, perceraian, pernikahan, ataupun masuk universitas. Orang tua yang terlalu mengkhawatirkan berat tubuh anaknya, pelatih olah raga yang secara terus menerus mendesak agar para atletnya mencapai berat tubuh "ideal," ataupun hidup dalam masyarakat dan budaya dimana penghargaan diri diasosiasikan dengan kelangsingan dan kecantikan dapat juga menjadi salah satu penyebab eating disorder. Banyak remaja, teruta­ma remaja-remaja putri, merasa tertekan dengan pemikiran masyarakat yang salah tentang ukuran dan berat badan ideal seorang wanita. Mereka ;     merasa sangat tertekan dengan "kewajiban" untuk tampil langsing seperti yang dimunculkan oleh televisi dan majalah. Media massa secara tidak langsung menyebabkan perbedaan antara ukuran rata-rata tubuh seorang wanita dan ukuran yang dipikirkan wanita sebagai ukuran "ideal" sangat jauh berbeda. Sebagai contoh, 20 tahun yang lalu, peragawati rata-rata memiliki berat badan 8% lebih kecil dibandingkan dengan wanita-wanita pada umumnya, tetapi sekarang peragawati memiliki berat badan 23% lebih kecil.
Eating disorders digolongkan menjadi tiga yaitu: bulimia nervosa, anorexia nervosa, dan eating disorders lainnya yang tidak terspesifikasi (EDNOS - Eating Disorders Not Specified). Semuanya tergolong gang­guan mental. Penderita bulimia nervosa makan dalam jumlah yang sangat berlebihan. Menurut riset, rata-rata penderita bulimia nervosa mengkon­sumsi 3.400 kalori setiap satu seperempat jam padahal kebutuhan konsum­si orang normal hanya 2.000-3.000 kalori per hari. Mereka berusaha keras mengeluarkan kembali apa yang telah dimakannya dengan cara memun­tahkannya kembali atau dengan menggunakan obat pencahar. Di antara kegiatan makan yang berlebihan itu biasanya mereka juga berolahraga secara berlebihan.
Banyak penderita bulimia memiliki berat badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasanya mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di bidangnya, dan cenderung perfeksionis. Namun, di balik itu, mereka rnemiliki rasa per­caya din yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga me­nunjukkan tingkah laku yang kompulsif, misalnya, mengutil di pasar swa­layan, atau mengalami ketergantungan pada alkohol atau lainnya.
Berbeda dengan penderita bulimia yang makan dalam jumlah ber­lebihan kemudian berusaha membuangnya, penderita anorexia nervosa makan dalam jumlah sangat sedikit dan berolahraga berlebihan untuk menjadi kurus, hingga mencapai 15% sampai 60% dibawah berat badan normal. Namun demikian, mereka tetap "merasa gemuk" walaupun sebe­narnya sudah sangat kurus. Mereka menganggap Wit dan daging pada tubuh mereka sebagai lemak yang harus dimusnahkan.
Penderita anorexia biasanya memiliki kebiasaan makan yang aneh, seperti menyisihkan makanan di piringnya dan memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil, mengunyah lambat-lambat, serta menghin­dari makan bersama keluarga. Mereka sangat suka mengumpulkan resep­-resep dan masak untuk keluarga dan teman-temannya, tetapi tidak makan sedikitpun makanan yang mereka masak. Dengan berlanjutnya gangguan ini, penderita mulai suka menyendiri dan menarik diri dari teman dan keluarga.
Jenis ketiga dari eating disorder adalah "eating disorder lainnya yang tidak terspesifikasi" (EDNOS) dan tidak termasuk dalam kategori kedua eating disorders di atas. Penderita EDNOS adalah seorang yang makan dengan tidak terkontrol dan seringkali secara sembunyi-sembunyi.
Eating disorders bukanlah suatu msalah yang dapat hilang dengan sendirinya tanpa perawatan, tetapi karena perasaan malu yang diasosiasikan dengan gangguan yang kompleks ini, banyak penderita tidak mencari pertolongan sampai bertahun-tahun kemudian.

http://majour.maranatha.edu/index.php/lppm-mkm/article/view/366

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar